Selasa, 21 Juni 2016

JARAK

J A R A K

Kau dan aku, hanyalah sisa sisa perasaan. Dari percakapan bermula hingga akal lupa dimana kita berada. Setelah sekian lama mengalami ilusi, kita mencoba mengerti: memeluk hati cukuplah seperlunya. Masih ada hari hari kita bisa dengarkan desah daun basah. Helai helai rumput tersipu, hujan bernyanyi sepi, mungkinkah terlalu yakin pada sendiri. Aku ragu, bisakah sejenak saja kita berbeda sapa. Aku takut, rasa kalut mengusik kesendirian kita. Sebab inilah kita yang memilih ilusi, dibanding sendiri sebagai sepi. Sebab aku belum mendefinisikan rindu, maka biarlah tak ada sudut pada percakapan kita. Biarkan begitu saja. Bilapun aku harus berhenti mencintaimu dalam detik dan detak. Biarlah aku pergi, meninggalkan mu pelangi dan senja. Langit merah mega, kepak kepak malaikat memetik gitar sebagai pengiring pergiku. Sebab pergi itu pasti, anggaplah itu cara ku mencintaimu. Mari kita mengenal rindu. Kau pun beranjak, begitupula aku merangkai jejak. Melepaskan halhal tak masuk akal, seperti selalu ada dan bersama. Seolah sudah cukup kita larut. Kuntumkuntum kesepian yang dulu dipetik, kini mulai tumbuh dan dibiarkan merekah. Kita pun mengenal sepi di antara wewangi perkara hati. Meski telah aku tuliskan di kulit hujan, kesepian adalah sudut terujung dari nestapa. Tapilah hidup tanpa sepipun, kurasakan jua, layaknya luka di tanah surga: tak sempat kurasakan sungai susunya. Sejak rambutmu terurai melambai lambai pergi, menyentuh wajah langit, kesendirian mulai menarinari selimutkan sepi. Aku berjalan jalan dengan dada menyala nyala, Akhirnya kita pun sudah berjarak. Sebab kita percaya, sejauh manakah rasa setia terkecuali ada jarak mengepak. Seperti apakah kau menjaga namaku di ruang tanpa diriku. Dan biarlah jarak mengajarkan cinta. Dengan siapa kita mendapatkan nama. Bukankah dulu begitu kita bisa bersama. Saat tak saling sapa karena jarak, sampai kini kau melekat dihatiku tanpa sekat. Apapun itu, dari jarak ini aku mulai mengenal rindu. Rasanya yang sendu membuatku penuh rasa ingin menunggu. Meski harus kupahami, rinduku ini, rindu sembilu, seperti layanglayang melayang lepas dari pemiliknya, terhempas angin tak berarah. Entahlah, sampai dimana aku, adakah yang menyentuh benangku, jatuh pada basah tanah, atau malah tersangkut pada rantingranting kering. Tapi itulah rinduku Aku merindukan mu pada jarak jarak yang tak mudah ditebak, meski harus tersentak pada waktu yang tak berdetak. Semoga kau tak beranjak dari namaku. Aku mencintaimu diantara jarak jarak yang terselip jejak kita dahulu, walau terhentak tempat yang tak terungkap. Semoga kau masih sediakan rumah untuk ku di hati mu. 

 
       Chan       





Tidak ada komentar:

Posting Komentar